Mengenal Tradisi Sakral Masyarakat Baduy
 |
| Masyarakat Baduy Dalam |
Suku Baduy
merupakan suku yang masih memegang teguh adat istiadat dari nenek moyangnya. Hal
ini terlihat dari beberapa ritual yang dilakukan oleh suku baduy dalam setiap
tahun. Diantaranya adalah kawalu (ngawalu),
ngalaksa, dan terakhir seba.
Secara tidak
langsung, upacara-upacara sakral tersebut dilaksanakan secara berurutan. Diawali
dengan kawalu sebagai pengungkapan rasa syukur terhadap Tuhan atas limpahan
rezekinya baik itu hasil bumi dan lainnya, lalu dilanjut dengan ngalaksa yaitu dengan membuat laksa dan
memakannya secara bersama-sama, dan dilanjutkan dengan seba atau nyeba yang
merupakan acara sillaturahmi kepada pemerintah Lebak dengan membawa hasil bumi
sebagai bentuk terima kasih (upeti) kepada pemda Lebak.
Kawalu
Kawalu
yaitu upacara yang dilakukan dalam menyambut bulan kawalu pada kalender baduy. Dalam bahasa mereka kembalinya padi dari huma (ladang) ke Leuit(lumbung padi). Biasanya upacara ini dilaksanakan dengan
berpuasa selama sehari dalam sebulan. Sedangkan kurun waktu kawalu yaitu selama
3 bulan. Dalam rentan waktu 3 bulan tersebut, tidak boleh ada wisatawan yang
berkunjung ke Baduy untuk menjaga kesakralan dari upacara tersebut.
Upacara kawalu
merupakan bentuk rasa syukur masyakarakat Baduy terhadap Tuhan atas limpahan
rezekinya baik itu hasil bumi maupun kerajinannya. Juga sebagai rasa
terimakasih terhadap alam yang mereka tinggali. Karena dengan alam lah mereka
akhirnya bisa bercocok tanam sehingga mereka tidak kelaparan atau tidak kehausan.
Ngalaksa
Upacara ngalaksa merupakan dari upacara kawalu. Ngalaksa ditandai dengan membuat mie
laksa, sejenis mie dari tepung beras seperti kwetiau dan dimakan secara
bersama-bersama. Upacara ini wajib bagi seluruh warga baduy untuk mengikutinya
baik itu baduy dalam dan baduy luar. Karena ngalaksa ini juga bertujuan untuk
menghitung populasi masyarakat baduy secara keseluruhan. Bisa dibilang ngalaksa
ini merupakan bentuk sensus penduduk dari suku baduy.
Nyeba atau
Seba
Upacara
Seba atau Nyeba merupakan upacara
lanjutan dari kawalu dan ngalaksa. Upacara ini merupakan bentuk sillaturahmi
masyarakat Baduy terhadap penguasa dalam hal ini pemprov Banten. istilah ”seba“ berasal dari kata ”nyaba“.
Dalam Kamus Bahasa Sunda, istilah ini berarti ”menyapa yang mengandung pengertian datang dalam rangka mempersembahkan
laksa disertai hasil bumi lainnya kepada penguasa nasional“.
Dari ketiga
upacara baduy diatas, upacara seba ini yang sifatnya terbuka untuk umum. Semua masyarakat
selain baduy bisa menyaksikan upacara ini tanpa ada larangan adat dari
masyarakat Baduy. Upacara ini mereka lakukan dengan membawa hasil panen dari
ladang mereka kepada pemprov Banten dengan berjalan kaki. Nyeba ini juga
sebagai bentuk terima kasih mereka (upeti)
terhadap pemprov Banten dan juga sebagai bentuk sillaturahmi terhadap penguasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar